Kamis, 19 September 2019

Kisah Imam Shalat Diprotes Oleh Makmumnya

Dalam kitab Akbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin, Imam Abu al-Farj Ibnu Jauziy (w. 597 H) mencatat riwayat seorang imam shalat yang membaca surah panjang ketika menjadi imam:

Dari Mundil bin Ali berkata: “Suatu hari al-A’masy keluar dari rumahnya di ketika Subuh. Ia melintasi Masjid Bani Asad dan (ketika itu) muadzin sedang mengumandangkan adzan shalat. Ia masuk (ke masjid) untuk ikut shalat. Di rakaat pertama, imam shalat membukanya dengan (membaca) surah Al-Baqarah, dan di rakaat kedua (membaca) surah Ali Imran.”

Selesai shalat, al-A’masy berkata pada imam itu: “Tidakkah engkau takut kepada Allah? Tidakkah engkau mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Barangsiapa yang menjadi imam (shalat), hendaknya ia memperingan, alasannya di belakangnya ada orang yang sudah tua, orang yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan'.”

Imam shalat itu menjawab: “Allah ‘azza wa jalla berfirman (QS. Al-Baqarah: 45): ‘Sungguh yang demikian ini sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” al-A’masy berkata: “(Justru itu) saya yaitu utusan orang-orang khusyu’ (untuk memberitahu)mu bahwa (cara shalat)mu sungguh memberatkan.” (Imam Abu al-Farj Ibnu Jauziy, Akbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin, hal. 119)

Sebelum membahas ke sana-kemari, kita perlu tahu bahwa “mudah” tidak sama dengan “menyepelekan”. Praktis berarti mencari pembiasaan terbaik dengan keadaan diri, sedangkan menyepelekan cenderung menganggap remeh. 

Cerita di atas yaitu kisah perihal pentingnya memahami keadaan orang lain dalam menerapkan agama, khususnya bagi para pemukanya. Karena itu, Imam Sulaiman bin Mihran al-A’masy (61-147 H), menegur imam shalat Subuh yang membaca surah Al-Baqarah dan Ali Imran di masing-masing rakaatnya. Ia mengutip sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan, “Barangsiapa yang menjadi imam (shalat), hendaknya ia memperingan, alasannya di belakangnya ada orang yang sudah tua, orang yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan.”

Bahkan ada hadits yang lebih keras dari itu, hingga Sayyidina Abu Mas’ud al-Anshari mendeskripsikan kemarahan Rasulullah dengan ungkapan: “Tidak pernah kulihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam murka dalam memberi pesan tersirat yang lebih mahir dari marahnya ia hari itu” (HR. Muslim). Tidak hanya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut imam semacam itu sebagai orang yang menciptakan insan lari dari agama (munaffirin). 

Mendengar hadits itu, sang imam menjawab dengan ayat Al-Qur’an yang pada dasarnya hal itu gampang bagi orang-orang yang khusyu’. Tapi direspon dengan cerdas oleh Imam al-A’masy bahwa ia yaitu utusan orang-orang khusyu’. Dengan kata lain, argumen orang khusyu’ yang dipakai imam shalat itu, dipatahkan dengan argumen bahwa orang-orang khusyu’ juga keberatan, dan ia yaitu utusan mereka. Argumen Imam al-A’masy ini menarik lantaran memakai pendekatan komparatif. Ketika “khusyu” dijadikan dalil pembenaran, ia meruntuhkannya dengan logika “khusyu” dari arah lainnya. Pertanyaannya kenapa Imam al-A’masy memakai argumen tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus memahami bahwa khusyu’ bukan sebatas memanjangkan shalat, apalagi di ketika ramai (berjamaah). Jika khusyu’ dinilai dari panjang-pendeknya shalat, maka orang-orang riya sanggup masuk kategori ini. Tidak ada orang yang sanggup mengalahkan orang-orang riya dalam hal menyiarkan pribadi ibadahnya ketika ramai. Meski demikian, di sini kita tidak akan membicarakan khusyu’ secara detail. Untuk mengetahuinya silahkan lihat kitab al-Khusyu’ fi al-Shalat karya Imam Ibnu Rajab al-Hanbali. Pembahasan kita akan difokuskan pada bagaimana pendekatan orang khusyu’ dalam memahami kisah di atas.

Pernyataan terakhir Imam al-A’masy seolah-olah menempatkan khusyu’ personal dan khusyu’ sosial dalam satu wadah yang saling melengkapi satu sama lainnya, lantaran orang-orang khusyu’ sudah mengerti betul keadaan dirinya. Untuk lebih mempermudah, kita akan memakai istilah “orang-orang yang terus berusaha khusyu”, lantaran kekhusyu’an bukan keadaan yang tetap dan statis. Kekhusyu’an harus didapatkan setiap saat, tidak kemudian didiamkan sehabis pernah merasa berhasil memperolehnya.

Bagi orang-orang yang memahami ini, mereka akan mengerti keadaan jiwa orang lain, bahwa khusyu’ bukan sesuatu yang “bim salabim” ada, tapi sesuatu yang diperoleh dengan usaha keras. Sebab, adakalanya orang yang memanjangkan shalatnya tidak berniat pamer, hanya ingin memperbanyak amalnya. Jika demikian, ia yaitu pencari pahala yang egois, lantaran tidak memikirkan makmum di belakangnya. Pencari pahala semacam ini sanggup dikatakan belum mengerti apa itu “khusyu”, bahkan mungkin belum terpikir sama sekali untuk masuk ke dalam kekhusyu’an. 

Dengan kata lain, verbal khusyu’ secara personal dan sosial berbeda. Karena ukuran insan tidak sama. Ada yang menganggap zikir lima puluh ribu sehabis shalat itu ringan; ada juga yang menganggapnya sangat berat. Di sinilah kenapa imam shalat atau pemuka agama harus mengerti perbedaan para jamaahnya. Jangan anggap semua orang sama menyerupai mereka. Jika mereka berpengaruh berzikir seratus ribu kali selama setengah jam, bukan berarti semua orang sanggup melakukannya juga. Maka, pola terbaik yaitu ulama-ulama di masa kemudian yang berfatwa memakai pendapat yang paling ringan untuk umatnya, tapi yang paling berat untuk dirinya sendiri. 



Kandungan lain dari kisah di atas yaitu pentingnya memahami manusia. Tidak semua insan mempunyai keadaan yang sama. Setiap orang membawa sejarahnya sendiri-sendiri, dan sanggup dipastikan alur ceritanya berbeda-beda. Karena itu, Rasulullah menegur keras imam shalat yang tidak mengerti jama’ahnya. Di antara jama’ahnya ada orang yang sudah tua, anak kecil, orang yang berkeperluan, dan lain sebagainya. Mereka mempunyai problemnya masing-masing. Maka saran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jangan berlebih-lebihan dalam beragama. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah orang yang mempersulit (berlebih-lebihan dalam) beragama, melainkan ia akan dikalahkan. Maka, laksanakan (dengan semestinya), dekatilah (semestinya), dan berbahagialah (dengan pahala-Nya). Dan mohon santunan di waktu pagi, petang dan sebagian malam.” (HR. Bukhari)

Maksudnya yaitu “agama itu mudah” bukan berarti menganggap gampang pengamalan agama, tapi mencari titik kenyamanan dalam mengamalkannya sesuai dengan ukuran diri kita. Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa ukuran diri insan berbeda-beda. Jika kita berusaha mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agama, sanggup dipastikan kita kalah dengan sendirinya. Sebab, berlebih-lebihan yang disengaja akan memberi tekanan berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, di samping “berlebih-lebihan” itu identik dengan pemaksaan dalam taraf yang keterlaluan. 

Karena itu, kita harus terus berusaha dan berjuang untuk memperbesar kapasitas ukuran diri kita. Salah satu caranya dengan istiqamah berguru dan beramal. Manusia dianugerahi Allah daya tampung diri unlimited (tidak terbatas), yang ada hanya pasang surut, terkadang sangat khusyu’, di waktu lain tidak sama sekali. Yang sedang kita bicarakan di sini yaitu daya tampung spiritual, yang sifatnya naik-turun, dan akan terus naik-turun hingga kapanpun juga, lantaran sudah menjadi tabiat dasarnya. Pertanyaannya, seberapa jeli kita mengenali gelombang naik-turun itu, dan seberapa lihai kita berselancar di permukaannya? 

Sebab, bagi orang-orang yang jiwanya sudah dilatih untuk terus berjuang, mereka cukup berhasil mengendalikan “berlebih-lebihan”, lantaran mereka tahu kapan saatnya meringkas, kapan saatnya memperbanyak, dan kapan saatnya menyederhanakannya.

Wallahu A’lam

Sabtu, 14 September 2019

Doa Untuk Orang Tua dan Artinya

 - Orang tua merupakan keluarga paling dekat dengan kita. Bagaimana tidak, pada umumnya mereka mau melakukan segalanya demi membahagiakan anak-anaknya. Semua orang tua pastinya ingin anaknya lebih baik segalanya dari apa yang telah mereka capai maupun miliki. Itulah setidaknya gambaran orang tua yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya.

Baca juga: Doa Setelah Membaca Al-Qur'an Arab, Latin, dan Artinya

Salah satu hal yang dapat membahagiakan orang tua yaitu mempunyai anak yang shaleh atau shalehah, mau berbakti, serta senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. Baik orang tuanya masih ada maupun telah meninggal dunia.

Berikut ini adalah bacaan doa untuk kedua orang tua lengkap bahasa Arab, bacaan Latin, dan artinya dalam Bahasa Indonesia:

Doa Untuk Orang Tua Arab, Latin, dan Artinya

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

Allaahummaghfirlii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa

Artinya:
"Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil."

 Orang tua merupakan keluarga paling dekat dengan kita Doa Untuk Orang Tua dan Artinya

Itulah bacaan doa mohon ampunan buat diri sendiri dan orang tua. Mudah-mudahan kita dapat mengamalkan doa tersebut di setiap saat kita berdoa, serta termasuk anak sholeh atau sholehah. Yakinlah anak-anak kita kelak akan melakukan hal sama yaitu mendoakan kita sebagai orang tuanya.

Selasa, 10 September 2019

Doa Setelah Sholat Dhuha Arab Latin dan Artinya

 - Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan saat waktu dhuha sebanyak dua rakaat atau lebih, sebanyak-banyaknya dua belas rakaat. Adapun waktu dhuha dimulai kira-kira jam 8 hingga tergelincir matahari atau sampai masuk waktu dhuhur.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Zaid bin Arqam, dia melihat orang-orang mengerjakan shalat dhuha (di awal pagi). Dia berkata, "Tidakkah mereka mengetahui bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Shalat orang-orang awwabin (taat; kembali pada Allah) adalah ketika anak unta mulai kepanasan'." (HR. Muslim)

Doa lainnya: Doa Ketika Lewat Kuburan atau Pemakaman

Berikut ini merupakan bacaan doa sesudah shalat dhuha yang lengkap dengan tulisan Arab, bacaan Latin, dan artinya dalam Bahasa Indonesia:

Doa Setelah Sholat Dhuha Arab

اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَائُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ

قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى

 السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا

 فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ 

وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ اَتِنِى مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ


Doa Setelah Sholat Dhuha Latin:

Allaahumma innadhdhuhaa-a dhuhaauka walbahaa-a bahaauka waljamaala jamaaluka walquwwata quwwatuka walqudrata qudratuka wal'ishmata 'ishmatuka allaahumma inkaana rizqii fissamaai fa'anzilhu wainkaana filardhi faakhrijhu wainkaana mu'assaran fayassirhu wainkaana haraaman fathahhirhu wainkaana ba'iidan faqarribhu bihaqqi dhuhaaika wabahaaika wajamaalika waquwwatika waqudratika aatinii maa ataita 'ibaadikashshaalihiin.

Artinya:
"Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi, maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh."


 Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan saat waktu dhuha sebanyak dua rakaat at Doa Setelah Sholat Dhuha Arab Latin dan Artinya

Itulah bacaan doa sesudah shalat dhuha yang memang sudah populer di masyarakat kita khususnya Indonesia. Tetapi perlu diketahui bahwa doa tersebut bukanlah doa dari hadist, melainkan doa ini disebutkan oleh Ad Dimyathi dalam I'anatuth Thalibiin dan Asy Syarwani dalam Syarh Al Minhaj. Wallahu a'lam.

Jumat, 06 September 2019

Kisah Sayyidina Thalhah Meragukan Sikap Khalifah Umar

Dalam kitab Hilyah al-Auliya’, Imam Abu Nu’aim al-Asbahani, mencatat sebuah riwayat yang bercerita ihwal Sayyidina Umar dan Sayyidina Thalhah. Berikut riwayatnya:

Diceritakan Muhammad bin Ma’mar, dari Yahya bin Abdullah, dari al-Auza’i, bahwa bersama-sama Umar bin al-Khattab radliyallahu ‘anhu keluar di suatu malam yang gelap, dan Thalhah melihatnya. Umar pergi dan memasuki sebuah rumah lalu masuk ke rumah lainnya. Ketika (hari sudah) pagi, Thalhah pergi ke rumah (yang dimasuki Umar), ia bertemu dengan seorang perempuan bau tanah yang buta sedang duduk. 

Thalhah bertanya padanya: “Apa urusan pria itu (Umar bin Khattab) mendatangimu?” Wanita itu berkata: “Sesungguhnya ia pernah menjanjikan kepadaku ini dan itu, ia mendatangiku dengan (membawa) kebutuhanku dan menghilangkan sakitku.”



Lalu Thalhah berkata (pada dirinya sendiri): “Celakalah kamu, wahai Thalhah! Apa kesalahan Umar yang sedang kau cari?” (Imam Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, juz 1, hal. 48)

Wallahu A’lam

Jumat, 30 Agustus 2019

Nasihat Penting Luqman Al-Hakim Kepada Anaknya

Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mengumpulkan beberapa hikmah Sayyidina Luqman al-Hakim untuk anaknya. Berikut dua dari sekian banyak nasihatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أبِي، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ مَالِكٍ يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ قَالَ: قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ، اتَّخِذْ طَاعَةَ اللَّهِ تِجَارَةً تَأْتِكَ الْأَرْبَاحُ مِنْ غَيْرِ بِضَاعَةٍ

Diceritakan oleh Abdullah, dari ayahku, dari Sayyar, dari Ja’far, dari Malik, yaitu Ibnu Dinar, dia bekata: “Luqman berkata pada anaknya: Wahai anakku, jadikan ketaatan kepada Allah sebagai perniagaan, maka laba akan mendatangimu tanpa modal barang dagangan.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, hal. 64)

Makam Luqman al-Hakim


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أبِي، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَنْبَأَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ وَاسِعٍ قَالَ: كَانَ لُقْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَقُولُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ، اتَّقِ اللَّهَ، وَلَا تُرِ النَّاسَ أَنَّكَ تَخْشَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؛ لِيُكْرِمُوكَ بِذَلِكَ، وَقَلْبُكَ فَاجِرٌ

Diceritakan oleh Abdullah, dari ayahku, dari Yazid bin Harun, menceritakan Abu al-Asyhab, dari Muhammad bin Wasi’, dia berkata: Luqman al-Hakim berkata pada anaknya: “Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah, dan jangan tunjukkan pada insan bahwa engkau takut kepada Allah ‘azza wa jalla alasannya ialah (mengharap) mereka memuliakanmu dengan itu, sedangkan hatimu (mudah) terhanyut.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, hal. 64)

Wallahu A’lam

Selasa, 20 Agustus 2019

Pesan Imam Al-Ghazali Kepada Seorang Presiden Pada Masanya

Sang Hujjatul Islam Imam Abdul Hamid Muhammad Al-Ghazali atau yang dikenal Imam Al-Ghazali yakni ulama yang tidak hanya seorang faqih, sufi, maupun filosof, tetapi juga seorang yang memiliki perhatian serius terhadap kepemimpinan.

Baginya, seorang umara memiliki kiprah penting dalam memperhatikan kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Apalagi ketika itu kepemimpinan Islam tidak sedikit menerima bahaya dari kelompok-kelompok lain demi kepentingan kekuasaan. Seperti kondisi umat Islam di Andalusia.

Sangat risau mendengar kekalahan dan penderitaan kaum Muslimin di Andalusia, Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) menulis surat kepada Raja Maghribi Yusuf Ibnu Tasyfin yang isinya cukup menggemparkan, sebagai berikut:

“Pilihlah salah satu di antara dua, memanggul senjata untuk menyelamatkan saudaramu-saudaramu di Andalusia atau engkau turun tahta untuk diserahkan kepada orang lain yang mampu memenuhi kewajiban tersebut.” 

Isi surat dari penulis kitab Ihya’ Ulumiddin tersebut diungkap B. Wiwoho dalam buku karyanya Bertasawuf di Zaman Edan: Hidup Bersih, Sederhana, dan Mengabdi (2006). Sikap tegas Al-Ghazali tentu tidak lepas dari konteks usaha Islam di Andalusia ketika itu. Kelemahan dalam kepemimpinan, konflik internal, dan kekuatan musuh yang semakin banyak yakni di antara alasannya yakni jatuhnya masa-masa kejayaan Islam di Andalusia.

Al-Ghazali sendiri merupakan salah seorang ulama masyhur yang hidup ketika Islam di Andalusia mencapai kejayaan emasnya. Tercatat ilmuwan-ilmuwan Muslim yang lahir dari kemajuan peradaban Islam di Spanyol, Ibnu Bajjah, Ibnu Rusyd, Ibnu Arabi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan lain-lain. Kejayaan Islam di Andalusia tidak lepas dari perkembangan peradaban ilmu pengetahuan.

Sejumlah displin ilmu dan banyak sekali teori yang ditemukan oleh para ilmuwan Muslim merupakan pintu masuk bagi perkembangan Islam di Barat, khususnya Eropa. Namun, kepemimpinan yang lemah kerap menjadi faktor runtuhnya masa Islam. Meski demikian, ilmu pengetahuan yang dikembangkan ilmuwan-ilmuwan Muslim tetap masyhur meskipun ketika ini masyarakat justru lebih banyak mengenal teori-teori pembaruan yang lahir dari para ilmuwan Barat.



Ketegasan Al-Ghazali dalam merespon kepemimpinan Islam di Andalusia merupakan kegelisahan seorang ulama kepada umara-nya. Kritisnya Imam Al-Ghazali tidak lebih dari perhatian dan kasih sayang kepada seorang pemimpin untuk tujuan yang lebih luas, kesejahteraan rakyatnya. Seorang pemimpin wajib melindungi rakyatnya jikalau mereka dalam kondisi menderita alasannya yakni perang. Seperti yang dimaksud Al-Ghazali dalam isi suratnya di atas.

Mengenai rakyat, penguasa, dan ulama, Al-Ghazali dalam kitab At-Tibbr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk atau Nasihat Bagi Penguasa menjelaskan bahwa tabiat dan perangai rakyat merupakan buah atau hasil dari tabiat dan perangai pemimpinnya.

Sebab berdasarkan Al-Ghazali, keburukan yang dilakukan orang awam hanyalah memalsukan dan mengikuti perbuatan para pemimpinnya. Pemimpin di sini tidak hanya ditujukan kepada satu orang saja dalam pemerintahan, tetapi juga para pemangku kebijakan di segala sektor.

Wallahu A’lam

Jumat, 09 Agustus 2019

Kisah Kejujuran Seorang Ulama Penjual Kain

Dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din, Imam al-Ghazali mencatat cerita wacana Imam Muhammad bin Munkadir dan pembeli dagangannya. Berikut kisahnya:

وروي عن محمد بن المنكدر أنه كان له شقق بعضها بخمسة وبعضها بعشرة فباع غلامه في غيبته شقة من الخمسيات بعشرة فلما عرف لم يزل يطلب ذلك الأعرابي المشتري طول النهار حتى وجده فقال له إن الغلام قد غلط فباعك ما يساوي خمسة بعشرة فقال يا هذا قد رضيت فقال وإن رضيت فإنا لا نرضى لك إلا ما نرضاه لأنفسنا فاختر إحدى ثلاث خصال إما أن تأخذ شقة من العشريات بدراهمك وإما أن نرد عليك خمسة وإما أن ترد شقتنا وتأخذ دراهمك فقال أعطني خمسة, فرد عليه خمسة وانصرف الأعرابي يسأل ويقول من هذا الشيخ فقيل له هذا محمد بن المنكدر فقال لا إله إلا الله هذا الذي نستسقي به في البوادي إذا قحطنا

Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Munkadir, bahwasanya dia mempunyai kain, sebagian berharga lima (dirham), sebagian lainnya sepuluh (dirham). Ketika dia tidak ada, budaknya menjual kain seharga lima (dirham) dengan harga sepuluh (dirham). Setelah mengetahuinya, sepanjang siang dia terus mencari-cari orang Badui yang membelinya, hingga berhasil menemukannya. 

Ibnu al-Munkadir berkata padanya: “Sesungguhnya budak(ku) telah berbuat salah, ia menjual padamu barang yang harganya lima (dirham) dengan harga sepuluh (dirham).” Pembelinya (Badui) berkata: “Aku rela.”

Ibnu al-Munkadir berkata: “Jikapun engkau rela, kami yang tidak rela atas (kerugian)mu, kecuali (dengan syarat yang) menciptakan kami rela untuk diri kami sendiri. Maka, pilihlah satu dari tiga hal ini, (pertama), silakan ambil (tukar) kain yang seharga sepuluh (dirham), (kedua), kami kembalikan uang lima (dirham) padamu, dan (ketiga), engkau kembalikan kain (yang engkau beli) dan silakan ambil uangmu (kembali).” 

Pembeli itu berkata: “Kembalikan saja uang lima (dirhamku).” Ibnu al-Munkadir mengembalikannya pada orang Badui itu, kemudian ia pulang. Si Badui pun (penasaran) dan bertanya-tanya: “Siapakah orang bau tanah itu?” Kemudian seseorang menjawabnya: “Beliau ialah Muhammad bin al-Munkadir.” Orang Badui itu berujar: “(Pantas saja), tidak ada yang kuasa selain Allah. Dialah orang yang mengalirkan air di sumur-sumur saat kami kekeringan.” (Imam Abu Hamid al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, juz 2, hal. 80)



Profil Singkat Muhammad bin al-Munkadir

Imam Muhammad bin al-Munkadir (w. 747 M) ialah seorang tabi’in. Beliau meriwayatkan hadits dari banyak sahabat Nabi ibarat Sayyidah Aisyah, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidina Abdullah bin Umar, Sayyidina Abdullah bin Abbas, Sayyidina Anas bin Malik dan masih banyak lainnya. Hampir semua imam besar hadits mengambil riwayat darinya, sebut saja Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majah, Imam al-Tirmidzi, dan lain sebagainya. Di kalangan ulama, Imam Ibnu al-Munkadir mempunyai kedudukan yang tinggi. Imam Malik bin Anas mengatakan:

كان محمد سيد القراء لا يكاد أحد يسأله عن حديث إلا كاد أن يبكي

“Muhammad (bin al-Munkadir) ialah tuannya para pembaca Al-Qur’an yang hampir tidak ada seorang pun yang menanyakan hadits padanya kecuali berlinangan air mata (hampir menangis).” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, juz 56, hal. 42)

Wallahu A’lam

Rabu, 31 Juli 2019

Kisah Wanita Yang Pernah Menjadi Guru Imam Syafi’I

Ini dongeng wacana wanita suci, cicit dari Nabi Muhammad saw. Ia juga seorang ilmuwan terkemuka di masanya, sehingga Imam Syafi’i pun belajar padanya. Sayyidah Nafisah (145 H -208 H), itulah namanya. Makamnya di Kairo, Mesir, hingga kini masih dipenuhi para peziarah.

Di luar masjid Sayyidah Nafisah, dijual buku yang mengupas biografi wanita yang disebut-sebut sebagai sumber pengetahuan keislaman yang berharga (Nafisah al-‘Ilm), pemberani, sekaligus ‘abidah zahidah (tekun menjalani ritual dan asketis). Bahkan, sebagian orang mengatagorikannya sebagai wali wanita dengan sejumlah karomah.

Sejak kecil, Sayyidah Nafisah sudah hafal Al-Qur’an dan setiap selesai membaca Al-Qur’an dia selalu berdoa, “Ya Allah, mudahkanlah saya untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim”. Beliau memahami bahwa Nabi Ibrahim yaitu bapak moneteisme sejati, sekalligus bapak Nabi Muhammad lewat jalur Nabi Ismail yang notabene keturunan Nabi Ibrahim. Sedangkan Sayyidah Nafisah sendiri yaitu keturunan dari Nabi Muhammad saw.

Dengan mengunjungi makam Nabi Ibrahim, boleh jadi dia berharap menarik benang merah usaha para leluhurnya. Ketika Allah mengabulkan doanya dan dia sanggup berziarah ke makam kakek moyangnya, Nabi Ibrahim, terjadilah insiden spiritual.

Ketika dia berusia 44 tahun, dia tiba di Kairo pada 26 Ramadhan 193 H. Kabar kedatangan wanita yang luar biasa ini telah menyebar luas. Beliau pun disambut oleh penduduk Kairo yang merasa bersyukur didatangi oleh Sayyidah Nafisah. Ratusan orang tiap hari tiba hendak menemuinya. Dari mulai berkonsultasi, meminta doa ataupun mendengar nasihat dan ilmu darinya.

Bahkan, dikabarkan banyak yang hingga bermalam di luar kediamannya, menunggu kesempatan untuk sanggup bertemu beliau. Lambat laun, Sayyidah Nafisah merasa waktunya tersita melayani umat. Beliau memutuskan untuk meninggalkan Kairo dan kembali ke Madinah semoga sanggup berdekatan dengan makam kakeknya, Nabi Muhammad saw.

Tapi, penduduk Kairo keberatan dan memelas semoga Sayyidah Nafisah membatalkan keputusannya untuk pulang kampung ke Madinah. Gubernur Mesir turun tangan. Ia melobi Sayyidah Nafisah untuk bertahan di Kairo. Gubernur menyediakan daerah yang lebih besar baginya, sehingga kediamannya sanggup menampung umat lebih banyak. Gubernur juga menyarankan semoga dia mendapatkan umat hanya pada hari Rabu dan Sabtu saja. Di luar waktu itu, dia sanggup kembali berkhalwat beribadah menyendiri.

Gubernur menunggu beberapa saat. Sementara Sayyidah Nafisah terlihat diam, menunggu petunjuk Allah. Akhirnya, setelah menerima izin-Nya, dia pun mendapatkan proposal Gubernur dan memutuskan tinggal di Kairo hingga final hidup menjemputnya.

Sebelum tiba di Mesir, Imam Syafi’i sudah usang mendengar ketokohan ulama wanita ini dan mendengar pula bahwa banyak ulama yang tiba ke rumahnya untuk mendengarkan pengajian dan ceramahnya. Imam Syafi’i tiba ke kota ini 5 tahun setelah Sayyidah Nafisah.

Beberapa waktu kemudian, Imam Syafi’i meminta bertemu dengannya di rumahnya. Sayyidah Nafisah menyambutnya dengan seluruh kehangatan dan kegembiraan. Perjumpaan itu dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan yang sering. Masing-masing saling mengagumi tingkat kesarjanaan dan intelektualitasnya.

Bila Imam Syafi’i berangkat untuk mengajar di masjidnya di Fustat, ia mampir ke rumahnya. Begitu juga ketika pulang kembali ke rumahnya. Dikabarkan bahwa Imam Syafi’i yaitu ulama yang paling sering bersama Sayyidah Nafisah dan mengaji kepadanya, justru dalam status Imam Syafi’i sebagai tokoh besar dalam bidang seruan al-fiqh dan fiqh.

Makam Sayyidah Nafisah


Kita tahu bahwa sebelum tiba ke Mesir, Imam Syafi’i sudah terlebih dahulu populer dan harum namanya di Baghdad. Fatwa-fatwa Imam Syafi’i di Baghdad dikenal sebagai ‘qaul qadim’, sedangkan pedoman dia di Kairo dikategorikan sebagai ‘qaul jadid’. Pada Ramadhan, Imam Syafi’i juga sering shalat Tarawih bersama Sayyidah Nafisah di masjid ulama wanita ini.

Begitulah kedekatan kedua orang andal ini. Manakala Imam Syafi’i sakit, ia mengutus sahabatnya untuk meminta Sayyidah Nafisah mendoakan bagi kesembuhannya. Begitu sahabatnya kembali, sang Imam tampak sudah sembuh. Ketika dalam beberapa waktu kemudian Imam Syafi’i sakit parah, sobat tersebut dimintanya kembali menemui Sayyidah Nafisah untuk keperluan yang sama, meminta didoakan.

Kali ini, Sayyidah Nafisah hanya mengatakan, “Semoga Allah memberinya kegembiraan ketika berjumpa dengan-Nya”. Mendengar ucapan sobat sekaligus gurunya itu, Imam Syafi’i segera paham bahwa waktunya sudah akan tiba.

Imam Syafi’i kemudian berwasiat kepada murid utamanya, al-Buwaithi, meminta semoga Sayyidah Nafisah menyalati jenazahnya bila kelak dirinya wafat. Ketika Imam Syafi’i wafat, jenazahnya kemudian dibawa ke rumah sang ulama wanita tersebut untuk dishalatkan.

Menurut KH. Husein Muhammad, di antara nasihat Sayyidah Nafisah kepada para muridnya adalah:

1.) Jika kalian ingin berkecukupan, tidak menjadi miskin, bacalah surah al-Waqi’ah.

2.) Jika kalian ingin tetap dalam keimanan Islam, bacalah surah al-Mulk.

3.) Jika kalian ingin tidak kehausan pada hari dikumpulkan di akhirat, bacalah surah al-Fatihah.

4.) Jika kalian ingin minum air telaga Nabi di akhirat, maka bacalah surah al-Kautsar.

Sayyidah Nafisah yaitu fakta sejarah bahwa seorang wanita sanggup menjadi seorang ulama tersohor, bahkan menjadi guru bagi seorang Imam Syafi’i. Kita merindukan munculnya Sayyidah Nafisah berikutnya di dunia Islam.

Penulis: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama, Australia dan New Zealand

Sabtu, 27 Juli 2019

Kisah Syaikh Ibnu Jauzi Menengahi Perselisihan Sunni Dan Syiah

Tidak gampang untuk menjaga perilaku bagi seorang tokoh masyarakat. Perilakunya selalu menjadi sorotan publik. Tindak tanduknya kerap diikuti oleh banyak orang. Pernyataannya acap kali dijadikan referensi, baik untuk menyanjung atau menyerang. Sekali saja ia berbuat atau berucap yang provokatif, dampaknya akan menyebar luas di tengah masyarakat. Terlebih bagi seorang tokoh yang menjadi pemersatu umat, ia dihentikan mengeluarkan statemen yang sanggup menyudutkan kelompok tertentu. Segala ucapan, perbuatan dan langkahnya harus betul-betul diterima semua kalangan. Inilah yang dicontohkan oleh ulama besar, Syaikh Ibnu al-Jauzi.

Nama lengkapnya yaitu Syaikh Abdurrahman Abu al-Faraj bin Ali bin Muhammad al-Jauzi al-Qurasyi al-Baghdadi. Beliau lahir pada tahun 508 H dan wafat tahun 597 H. Beliau lahir dan wafat di kota Baghdad. Seorang yang sangat alim di masanya terutama di bidang sejarah dan hadits. Di antara karyanya al-Adzkiya’ wa Akhbaruhum, Manaqib Umar bin Abdil Aziz, Tarikh Hukama’ al-Islam, dan lain sebagainya.

Suatu dikala Syaikh Ibnu al-Jauzi tengah memberikan khutbah, kemudian dia didatangi dua rombongan dari kelompok besar, Asya’irah (Sunni) dan Syi’ah. Asya’irah yaitu kelompok yang dalam teologi mengikuti Syaikh Abu al-Hasan al-Asy’ari. Syi’ah yaitu kelompok yang sangat fanatik dengan Sayyidina Ali dan para keturunannya.

Dua rombongan tersebut masing-masing membawa pedang layaknya orang yang hendak berperang. Perseteruan itu dipicu salah satunya oleh pandangan yang berbeda dari keduanya, berkaitan dengan sebuah keyakinan wacana insan terbaik sesudah Nabi Muhammad saw. Kelompok Asya’irah meyakini bahwa sepeninggal Baginda Nabi Muhammad saw., yang terbaik yaitu Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq. Sementara bagi kaum Syi’ah, Sayyidina Ali yang paling utama. Kedua kelompok besar ini tiba untuk meminta pendapat Syaikh Ibnu al-Jauzi.

“Siapa yang lebih utama, lebih akrab dan lebih dicintai Rasulullah saw. wahai Syaikh, Abu Bakar atau Ali?” demikian pertanyaan yang terlontar.

Pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh Syaikh Ibnu al-Jauzi. Jika dia menjawab Abu Bakar yang lebih utama, niscaya Syi’ah marah. Jika dijawab Ali lebih mulia, kelompok Asya’irah yang tidak terima.



Syaikh Ibnu al-Jauzi sejenak berpikir untuk menemukan jalan keluar dari kondisi dilematis yang menimpanya, semoga jawabannya sanggup diterima kedua kelompok besar yang meminta fatwanya. Setelah berpikir, dia menemukan jawabannya. Dengan cerdik, dia melontarkan balasan yang sangat diplomatis:

اَلْأَفْضَلُ مَنْ كَانَتْ بِنْتُهُ تَحْتَهُ

“Yang paling utama yaitu dia yang putrinya menjadi istrinya.”

Sebuah balasan yang sangat cerdik. Baik Asya’irah maupun Syi’ah masing-masing sanggup menerimanya. Asya’irah memahami statemen Syaikh Ibnu al-Jauzi di atas mengarah kepada Abu Bakar. Sebab berdasarkan mereka, dlamir (kata ganti) yang ada pada redaksi “bintuhu” merujuk kepada Abu Bakar, sedangkan dlamir yang ada pada redaksi “tahtahu” mengarah kepada Nabi Muhammad saw. Makara berdasarkan pemahaman mereka, maksud ucapan Syaikh Ibnu al-Jauzi yaitu “Yang paling utama yaitu dia yang putrinya (Abu Bakar) menjadi istrinya (Nabi).” Seperti diketahui, Aisyah tidak lain yaitu putri Abu Bakar yang menjadi istri Rasulullah.

Demikian pula dengan kelompok Syi’ah, mereka sangat puas dengan balasan Syaikh Ibnu al-Jauzi. Menurut mereka, balasan Syaikh Ibnu al-Jauzi di atas mengarah kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka memahami kata ganti (dlamir) pada ucapan Syaikh Ibnu al-Jauzi berbeda dengan yang dipahami Asya’irah. Menurut mereka, dlamir yang ada pada redaksi “bintuhu” merujuk kepada Nabi, sedangkan dlamir yang ada pada redaksi “tahtahu” mengarah kepada Sayyidina Ali. Menurut mereka, maksud ucapan Syaikh Ibnu al-Jauzi di atas yaitu “Yang paling utama yaitu dia yang putrinya (Nabi saw) menjadi istrinya (Sayyidina Ali).” Merupakan hal yang maklum, istri Ali yaitu Fathimah, putri Nabi.

Karena balasan Ibnu al-Jauzi yang multi tafsir, dua kelompok besar yang mengadu kepadanya memahami sesuai kecenderungan masing-masing. Letak perbedaannya ada pada marji’ dlamir yang ada pada kata “bintuhu” dan “tahtahu”.

Demikianlah selayaknya seorang publik figur bersikap, fatwanya sanggup diterima semua kalangan tanpa menjadikan perpecahan di tengah-tengah umat.

Disarikan dari kitab al-Fawaid al-Mukhtarah karya Habib Ali bin Hasan Baharun, hal. 89

Wallahu A’lam

Kamis, 18 Juli 2019

Kisah Utang Piutang Yang Menyebabkan Allah Sebagai Jaminan

Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hikayat dua laki-laki dari kalangan Bani Israil yang terlibat dalam transaksi utang-piutang. Kisah yang tertuang dalam hadits shahih ini menampilkan sebuah sikap yang unik namun sekaligus mengandung pesan mendalam.

Pria pertama secara khusus mendatangi temannya sesama Bani Israil untuk keperluan meminjam uang sebesar seribu dinar. Pemilik uang pun mengajukan syarat kepada si peminjam supaya mendatangkan saksi.

"Kafa billah syahidan (cukup Allah saja sebagai saksi)." jawab si peminjam

"Kalau begitu, berikan saya penjamin!" kata pemilik uang

"Kafa billahi wakilan (cukuplah Allah sebagai penjamin)," jawab lagi si peminjam

Pemilik uang itu pun ridha. Ia setuju menyerahkan seribu dinar sebagai utang dalam jangka waktu tertentu. Si peminjam juga lega dan hasilnya bisa menyeberangi lautan dan menunaikan keperluannya.

Mereka yaitu dua orang shalih yang bisa dipercaya. Karena itu ketika pembayaran utang sudah jatuh tempo, si peminjam bergegas mencari bahtera untuk pergi mengembalikan utang seribu dinar. Sayang, tak satu pun sarana transportasi bahari ia jumpai.

Tekadnya yang lingkaran untuk melunasi akad secara sempurna waktu menciptakan laki-laki peminjam uang tersebut tidak kekurangan akal. Ia ambil sebatang kayu, ia lubangi, kemudian ia masukkan ke dalamnya uang seribu dinar juga sepucuk surat untuk temannya itu.

Selanjutnya, ia membawa kayu itu ke laut. Dengan kepasrahan tingkat tinggi, ia bermunajat:

"Duhai Allah, sungguh Engkau mengetahui saya berutang kepada fulan seribu dinar. Dia meminta seorang penjamin kepadaku, kemudian saya menjawabnya, ‘Cukuplah Allah sebagai Penjamin’. Dia rela dengan-Mu. Dia meminta seorang saksi kepadaku, maka saya menjawabnya, ‘Cukuplah Allah sebagai saksi’. Lalu ia pun rela dengan-Mu. Dan saya telah berusaha mendapat bahtera untuk menunjukkan haknya namun saya tidak mendapatkannya. Dan kini saya menitipkannya kepada-Mu.”

Sebatang kayu berisi uang dan surat itu pun dilempar ke bahari sampai sempat karam ke dalamnya. Sementara si peminjam pergi meninggalkan nasib kayu dengan penuh kepasrahan. Tapi si peminjam tersebut tak lantas berpangku tangan. Dia terus berikhtiar mencari bahtera untuk bisa menyeberangi lautan.

Bagaimana nasib uang dan sepucuk surat tadi? Subhanallah, batang kayu itu tiba ke tangan pemilik uang (pengutang) dalam kondisi selamat dan sempurna waktu. Waktu itu gotong royong ia hanya melihat-lihat keluar, barangkali ada bahtera tiba dan seseorang membawa uang pelunasan utang. Yang terlihat justru sebatang kayu mengambang di air dan dikala dibuka ternyata berisi seribu dinar dan sepucuk surat.

Si peminjam gres berhasil menyeberangi lautan beberapa waktu kemudian. Ia tiba kepada temannya dengan perasaan bersalah. "Demi Allah, saya terus berusaha keras mencari bahtera untuk membayar utangku kepadamu. Tapi tidak kunjung dapat, sampai gres dikala ini saya bisa menemuimu."

"Apa engkau mengirimkan sesuatu untukku?" kata pemilik uang.

"Dengar, saya tak kunjung sanggup bahtera dikala itu." jawab si peminjam

“Sesungguhnya Allah telah mengantarkan untukmu uang pinjaman melalui mediator kayu yang engkau kirim. Sekarang, ambillah seribu dinarmu ini dengan baik.” Si pemberi pinjaman "menolak" utangnya dilunasi.



Kisah dari hadits shahih ini setidaknya memberi sejumlah pesan:

Pertama, wacana tolong-menolong antarsesama. Selagi mampu, sudah seyogyanya uluran tangan diberikan kepada mereka yang sedang membutuhkan, termasuk dalam bentuk sumbangan utang. 

Permintaan mendatangkan saksi dan penjamin oleh si pemberi utang yaitu sebuah mekanisme yang wajar. Dalam transaksi modern, saksi atau bukti-bukti berupa surat dan sejenisnya akan memperkuat kepercayaan dan rasa tanggung jawab kedua belah pihak. Saat mekanisme formal tersebut terpaksa tak sanggup dipenuhi, pinjam-meminjam tetap bisa dilaksanakan selama sifat amanah diyakini ada.

Kedua, rasa tanggung jawab yang besar. Si peminjam gotong royong bisa saja menyebabkan hambatan teknis (tak mendapat perahu) sebagai alasan untuk menunda pelunasan utang di luar tempo yang sudah ditentukan. Namun, ia tak melakukannya alasannya yaitu dengan demikian ia melanggar akad dan hak orang lain, dan urusan utang bukanlah tanggung jawab yang sederhana.

Ketiga, ikhtiar dan kepasrahan total. Ia memakai nama Allah tak sebagaimana politisi yang kasar mengeruk suara. Melainkan, membangun trust bahwa gerak-geriknya yang membawa tanggung jawab berat berada di bawah pengawasan-Nya. Tatkala tempo kewajiban itu tiba, ia pun berusaha keras mencari jalan keluar. Hingga pada situasi buntu, ia mengambil jalan alternatif langka tapi dengan tawakal yang tidak setengah-setengah. Si peminjam menempuh ikhtiar keras sebelum hasilnya berpasrah total.

Wallahu A’lam